KESANTUNAN BERBAHASA ANAS URBANINGGRUM PASCA JADI TERSANGKA KPK DALAM KASUS HAMBALANG

Abstract view : 130 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 107 times

Abstract


ABSTRAK

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa Anas Urbaninggrum pasca jadi tersangka KPK dalam Kasus Hambalang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif untuk menjelaskan prinsip sopan santun sebagai bentuk kesantunan berbahasa. Prinsip sopan santun itu terdiri atas maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim kerendahan hati, maksim pujian, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Secara umum, Anas dalam tuturannya memiliki enam prinsip sopan santun itu. Ini menunjukkan kesantunan berbahasa Anas sebagai seorang pimpinan partai yaitu bijaksana, dermawan, suka memuji kinerja orang lain, suka menawarkan kesepakatan, dan mudah simpati terhadap sesuatu. Anas tetap memperhatikan kesantunan berbahasa dalam bertutur meskipun ia sedang tersangkut kasus hukum dengan KPK.

             

Kata Kunci: Kesantunan berbahasa, prinsip sopan santun


References


Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Leech, Geofrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik (Terjemahan M.D.D.D.D Oka). Jakarta: Gramedia.

Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Mislikhah, St, ‘Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies Vol. 1, No.2, Desember 2014 (Www.journalarraniry.com) | St’, 1 (2014), 285–96.

Widiatmoko, Bambang, ‘Analisis Bahasa Politik Pejabat Publik Indonesia Berdasarkan Tinjauan Filsafat Nilai’, 48–49




DOI: https://doi.org/10.22202/jg.2017.v3i2.1280


Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Statistik Pengunjung Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia